Sep 22, 2014

INDUSTRI KREATIF KULIT ULAR ASAL COMAL - PEMALANG



          Desa Sarwodadi, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang – Jawa Tengah, walaupun hanya terdapat 16 pengrajim kulit ular disana, namun hasil produksi mereka juga cukup terkenal sekitar Jawa – Bali.

          Tekstur kulit ular yang sangat menonjol menjadi khas produk kerajinan kulit ular dari Comal. Produk kerajinan ini tersebar sepanjang Solo, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Jakarta, sampai ke Bali.

Selain hasil olahan kulit ular yang dijadikan produk kerajinan, terdapat juga ular - ular yang langsung diawetkan secarah utuh dalam berbagai bentuk patung ular.

          Beberapa pengrajin kulit di Bali bahkan memesan langsung kulit ular yang masih berupa kulit mentah dari Comal, untuk selanjutnya diolah mulai dari proses pembusukan, pewarnaan, penyamakan, hingga menjadi produk tas, dompet, sabuk (ikat pinggang /rim), dan kreasi lainnya. Hasil kerajinan dari Bali tersebut tak jarang dipasarkan hingga ke manca negara.

Sep 18, 2014

MEMBEDAKAN JENIS ANTARA PARFUM PRIA DAN WANITA



          Diera moderen seperti saat ini kriteria parfum yang banyak beredar dipasaran adalah parfum unisex, yaitu parfum yang dapat digunakan oleh pria maupun wanita. Walupun tetap masih ada juga diproduksi parfum yang khusus digunakan buat pria dan juga buat wanita.

          Parfum telah lama dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun lalu yang ketika itu digunakan hanya pada saat ritual adat serta prosesi keagamaan saja. Setelah beberapa abad kemudian akhirnya parfum digunakan secara umum dalam berbagai moment dan telah memiliki beberapa aroma berbeda.

Mulai abad ke 19 produsen parfum mencoba menciptakan jenis parfum yang dikhususkan buat masing – masing gender. Dalam dunia parfum dikenal ada empat jenis aroma parfum, dimana setiap aroma tersebut memiliki keuatan yang mampu mempengaruhi jiwa dari sipemakai, diantaranya: menimbulkan rasa percaya diri, membuat tenang dan rilex, mampu mempengaruhi gairah positif maupun negatif sipemakai atau orang lain disekitarnya.

          Berikut keempat aroma dari parfum tersebut, antara lain:

- Aroma Floral bagi wanita yang mampu menimbulkan sisi feminim dan sensual mereka. Aroma ini bahannya bersumber dari berbagai jenis bunga, seperti mawar dan melati yang lebih disukai wanita dewasa, dan jenis bunga lily, lavender, hibiscus, dominan disukai para wanita muda.

- Aroma Woody bagi kaum pria akan membuatnya merasa lebih maskulin. Bahan dari aroma woody berasal dari wangi pepohonan, seperti: kayu cendana, kayu nilam, kayu cedar, kayu ek, kayu pinus, serta beberapa jenis kayu lain.

- Aroma Fresh yang biasanya dipadukan dalam kedua aroma diatas tadi. Aroma ini bersumber dari wewangian buah – buahan, seperti: teh hijau, apel, rosemary, strawberry, citrus, lemon, dan banyak lagi.

- Aroma Oriental memiliki pengaruh eksotis serta kehangatan, dibuat dari bahan dasar coklat, vanilla, jahe, kayu manis, serta beberapa sumber rempah lain. Aroma ini juga sering dicampurkan kedalam bahan Aroma Floral maupun Aroma Woody.

Sep 13, 2014

PERBEDAAN SHAMPOO UNTUK PRIA DAN WANITA



          Shampoo sudah menjadi kebutuhan utama bagi perawatan rambut setiap pria dan wanita manapun dibelahan bumi ini. Sebahagian besar manusia moderen lebih menggunakan produk shampoo pabrikan dari bahan kimia dengan alasan mudah didapatkan, praktis menggunakannya, serta umumnya harga terjangkau dengan berbagai pilihan merek yang sesuai struktur kulit kepala kita masing – masing.

Ada pula konsumen yang lebih suka menggunakan shampoo herbal serba natural dan murni dari bahan alami, baik yang langsung dipetik dari tumbuh – tumbuhan, ataukah produk herbal pabrikan.

          Menyinggung mengenai perbedaan penggunaan shampoo antara pria dan wanita, menurut beberapa pakar bahwa hal ini sah – sah saja diterapkan. Namun kata mereka pria boleh saja menggunakan shampoo yang khusus diproduksi bagi wanita, sebab sebenarnya tidak akan menimbulkan efek yang buruk bagi sipemakai, kendati selama ini belum pernah ada kasus yang menimbulkan masalah terhadap kulit kepala bagi pria yang sering menggunakan shampoo wanita.

Dari segi konstruksi antara kulit kepala pria dan wanita ditemukan perbedaan, bahwa:

- Kulit kepala pada pria lebih berminyak, lebih kuat, dan tahan dibanding kulit kepala wanita.

- Kelenjar keringat pada kulit kepala pria lebih banyak dibanding wanita, akibat umumnya pria lebih dominan banyak melakukan aktivitas serta pekerjaan yang lebih berat, sehingga produksi minyak pada kulit kepala pria juga ikut meningkat, maka rentan berketombe.

- Kulit kepala pada wanita juga tergolong kuat hanya saja karena perilaku manipulasi yang sering dilakukan, seperti: mengeringkan rambut menggunakan hairdry, pengecatan rambut, pelurusan dan mengkeritingkan rambut, membuat kebanyakan rambut wanita sering bermasalah (pecah – pecah, rontok, dan sebagainya).

          Nah…., sekarang pilihan bergantung dari diri kita masing – masing jika ingin menggunakan produk shampoo yang mana.

Sep 11, 2014

GELIAT BISNIS KERAJINAN KULIT DI BATANG JAWA TENGAH


          Tak bedanya dengan pusat kerajinan kulit di Cibaduyut – Jawa Barat serta Magetan – Jawa Timur, demikian pula di Desa Masin, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, yang tak mau kalah menjadikan daerah ini sebagai pusat kerajinan kulit di Jawa Tengah.

          Keberadaan para penyamak kulit dan pengrajin kulit di Batang telah ada sejak puluhan tahun silam. Menurut mereka bisnis ini mulai digeluti sejak tahun 1956 oleh hanya tiga orang warga yang ketika itu masih berprofesi sebagai penyamak kulit sapi. Melihat bisnis tersebut semakin berpotensi dan sangat berpeluang setiap tahunnya, kemudian warga yang lain mulai ikut terjun menjadi penyamak kulit sapi di Desa Masin.

Selang beberapa lama, mulailah muncul kreatifitas penduduk lain yang menjadikan kulit sapi sebagai industri kerajinan kulit dan terus berkembang sampai sekarang.

Untuk mendukung peningkatan bisnis penyamak dan pengrajin kulit masyarakat Desa Masin, maka didirikanlah Koperasi Pengrajin Kulit pada tahun 1962.

Tahun 2008 silam Bappeda Kabupaten Batang menggulirkan program pendukung bagi para penyamak dan pengrajin kulit setempat, dengan mendirikan Kluster Kulit (wadah yang menaungi bisnis para penyamak dan pengrajin kulit), serta mengucurkan anggaran tahunan guna melakukan berbagai pembinaan juga pelatihan agar masyarakat pelaku dibisnis ini mampu menghasilkan produk berkualitas, sehingga dapat bersaing baik dipasaran dalam negeri maupun mancanegara.


Perkembangan bisnis menyamak kulit dan kerajinan kulit di Batang pun semakin bertumbuh pesat seiring permintaan pasar. Sampai saat ini para pengrajin tersebut telah mampu meproduksi berbagai jenis kerajinan dalam bentuk sandal, tas, dompet, sabuk (ikat pinggang), jaket, serta berbagai aksesoris. Setiap jenis kerajinan tersebut juga memiliki beragam model yang disesuaikan dengan tren perkembangan pasar.

Pemasaran produk kerajinan kulit dari Kabupaten Batang mampu merambah keberbagai tempat di nusantara, bahkan produk kerajinan kulit mereka juga telah diikutkan pada berbagai pameran dalam negeri.

Rata – rata penghasilan setiap pengrajin kulit di Kabupaten Batang mampu meraih omset minimal Rp.50 juta per bulan.

          Seiring maraknya pertumbuhan pengrajin kulit sebagai bisnis berbasis ekonomi kerakyatan di Batang ini, dan dibarengi permintaan pasar yang terus meningkat, maka untuk mengantisipasi stok ketersediaan bahan baku kulit sapi, para pengrajin kulit di Batang juga mendatangkan langsung kulit sapi dari Jawa Timur dan Timor Timur.

















Sep 7, 2014

MELIRIK PUSAT KERAJINAN KULIT DI MAGETAN JAWA TIMUR



          Nama Kabupaten Magetan di Jawa Timur memang sudah melengenda sebagai salah satu sentra atau pusat kerajinan kulit yang ada di Pulau Jawa selain Cibaduyut di Kota Bandung, Jawa Barat.

Beberapa produk kerajinan kulit dari Magetan, seperti: jaket, sepatu, sandal, sabuk (rim / ikat pinggang), dompet, serta berbagai model aksesoris, semuanya ada disini. Produk – produk terswebut tidak hanya menguasai pasaran dalam negeri saja, namun juga telah mampu menembus pasaran luar negeri.

          Ketersediaan kulit sapi sangat mencukupi di Magetan sebagai bahan dasar kerajinan kulit, mengingat daerah tersebut merupakan salah satu pusat penghasil daging sapi terbesar di Pulau Jawa. Sebut saja Desa Janggan, di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan yang merupakan desa andalan pembudidayaan sapi.

Hampir seluruh masyarakat di Desa Janggan ini beternak sapi disetiap rumah mereka. Sapi – sapi tersebut tidak digembalakan dipadang atau untuk membajak sawah, namun dikurung dalam kandang untuk tujuan penggemukan.

Ketersediaan makanan sapi sehari – hari mudah didapatkan oleh warga desa karena alam mereka yang berada diketinggian mendukung penyediaan tumbuhan tebu berlimpah, serta suhu sejuk setempat yang sangat mendukung pembudidayaan sapi potong.

Konon keterampilan yang dimiliki masyarakat Magetan sebagai pengrajin kulit berawal dari hadirnya para prajurit Pangeran Diponegoro pada tahun 1830, yang memang memiliki keahlian membuat pelana kuda dari bahan kulit. Saat berakhinya perang Diponegoro, prajurit setia ini memilih menetap di Kabupaten Magetan.

Sejak saat itulah masyarakat di Magetan mulai mengenal dan menekuni bidang ini yang seiring berjalannya waktu mereka mampu menghasilkan berbagai jenis kerajinan kulit lainnya.

Walaupun kegiatan kerajinan kulit ini sempat terhenti saat masa penjajahan Jepang, namun mampu bangkit lagi diera tahun 1950-an sampai saat ini. Bahkan pihak Pemerintah Kabupaten Magetan bersama Pemerintah Propinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Pusat, yang bekerjasama dengan Balai Penelitian Kulit (BPK) Yogyakarta dan mengikutsertakan UNINDO (Perusahaan produsen alat listrik seperti travo), membangun sebuah Mini Industrial Eastate (MIE) atau kawasan industri skala kecil di Magetan yang kemudian disebut Unit Pelaksana Teknis (UPT) Industri Kulit dan Produk Kulit Magetan, oleh masyarakat setempat mengenalnya sebagai LIK (Lingkungan Industri Kulit).

Pemerintah Kabupaten Magetan juga terus menerus melakukan pembinaan berupa pelatihan, dengan tujuan meningkatkan kualitas serta daya saing dari hasil produksi kerajinan kulit yang juga setiap tahunnya mengikuti trend mode.

Disamping itu pemerintah ikut membantu dalam penyediaan fasilitas mesin yang dibutuhkan para pengrajin kulit, didukung dengan kemudahan memperoleh pinjaman modal usaha melalui lembaga keuangan setempat. Pertumbuhan jumlah pengrajin kulit di Magetan selama ini telah mencapai ratusan pengrajin yang tersebar diberbagai Kecamatan, dan telah menyerap tenaga kerja hingga ribuan orang.

          Pusat atau sentra pemasaran produk kerajinan kulit di Magetan berlokasi di Jalan Sawo dan Jalan Diponegoro. Diarea yang tertata rapi ini ramai berdiri bangunan art shop yang menjual semua jenis produk kerajinan kulit. Lokasi ini sangat strategis karena berada tepat pada jalur utama menuju tempat wisata Telaga Sarangan. Sentra yang letaknya sekitar 1 Km dari alun – alun Kabupaten Magetan menujun arah barat.














Sep 3, 2014

PUSAT INDUSTRI SEPATU CIBADUYUT



          Pusat produksi sepatu Cibaduyut letaknya disepanjang Jalan Cibaduyut Raya, sebelah selatan Kota Bandung. Kawasan industri sepatu ini diakui sebagai sentra industri terpanjang dunia.

          Tidak ada informasi resmi yang mengakui sejak kapan pastinya sentra home industry ini awalnya muncul. Namun menurut informasi yang beredar mengatakan bahwa kawasan sepatu Cibaduyut telah ada di jaman penjajahan Jepang. Saat itu pengrajin sepatu di Jalan Cibaduyut Raya digeluti oleh segelintir orang yang konon pernah bekerja pada sebuah pabrik sepatu di Bandung.

Walaupun mereka memproduksi sepatu handmade dengan dibantu peralatan yang sangat terbatas dan model sederhana, namun kualitas sepatu yang dihasilkan jaman itu mampu memberikan kepuasan tersendiri bagi orang yang memakainya.

Seiring berjalannya waktu, para pelaku bisnis sepatu handmade di Cibaduyut juga semakin bertambah jumlahnya. Hingga pada tahun1978 Departemen Perindustrian mewakili pemerintah pusat yang bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Pendidikan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) melakukan kajian untuk memberikan pelatihan dan pengembangan kualitas bagi skill para pelaku home industry sepatu di Cibaduyut.

Dari hasil kajian tersebut maka pada tahun 1980-an oleh Departemen Industri meluncurkan proyek yang disebut BIPIK serta mendirikan pusat pelayanan fasilitas yaitu Center Service Facility (CSF) atau Unit Pelayanan Teknis (UPT). Berbagai fasilitas sarana dan prasarana disediakan, seperti: gedung, mesin dan peralatan kerja, dipadukan dengan berbagai program pelatihan.

Lewat fasilitas dan program ini membuat pelaku industri sepatu Cibaduyut di Bandung semakin melonjak jumlahnya. Produk sepatu yang mereka hasilkan selain kualitasnya mampu bersaing, model sepatu yang mereka keluarkan juga setiap tahunnya mengikuti trend dunia. Bahan yang mereka gunakan selain dari kulit asli ada juga terbuat dari kulit sintetis dengan harga yang tentunya berbeda.

Tahun 1987 oleh Presiden RI saat itu yakni H.M. Soeharto diresmikanlah Cibaduyut sebagai kawasan industri sepatu di Bandung.

          Sampai saat ini pemasaran produk sepatu Cibaduyut selain sudah dikenal ke seluruh tanah air juga mampu menembus sampai pasaran Eropa dan Amerika.







Sep 1, 2014

MENGENAL KERAJINAN TOPI BAMBU TANGERANG



          Kerajinan Topi Bambu telah ada di Kabupaten Tangerang sejak era tahun 1800 sampai awal tahun1900. Dijaman Hindia Belanda produk Topi Bambu ini sangat populer sampai ke Eropa dan Amerika (umumnya di Amerika Latin), bahkan konon pemasarannya pernah merajai Negara Prancis.

          Di Indonesia sendiri, Topi Bambu ini juga banyak digunakan oleh Tentara KNIL atau Koninlijke Netherlands Indie Leger (prajurit Hindia Belanda yang bertugas di Indonesia pada jaman revolusi), bahkan hingga kini yang umumnya digunakan oleh kelompok Pramuka di tanah air.

Dahulu dijaman revolusi, sentra pembuatan Topi Bambu di Kabupaten Tangerang terdapat di: Desa Cikupa, Desa Tenjo, Desa Balaraja, Desa Tigaraksa, dan beberapa desa lainnya. Hasil produksi Topi Bambu dari beberapa desa tersebut, lalu dikumpulkan oleh para tengkulak kemudian diserahkan ke pabrik topi yang berada di Tangerang, untuk lebih disempurnakan lagi sebelum diekspor. Sayangnya home industri di Tangerang ini pernah berhenti akibat kerusuhan anti warga Tionghoa yang diprovokasi oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda yang berkedudukan di Indonesia). Akhirnya kerajinan Topi Bambu ini pun menghilang hingga beberapa dasawarsa lamanya.

Saat ini untuk bisa menemukan pengrajin Topi Bambu di Kabupaten Tangerang, kita hanya bisa jumpai mereka di Kampung Ciakar yang berada di Desa Ciakar, Kecamatan Panongan.

Beberapa jenis Topi Bambu yang dihasilkan pengrajin di Desa Ciakar ini, seperti: Topi Bambu Tudung Belenong (bentuknya mirip belenong), Topi Bambu Capio (jenis topi pramuka), Topi Bambu Peradah (topi jenis hiasan dinding).

Kerajinan Topi Bambu di Tangerang sampai saat ini produksinya masih sangat terbatas dan belum mampu menjadi komoditi andalan yang dapat mengangkat taraf ekonomi masyarakat Tangerang secara umum. Sebuah komunitas Topi Bambu yang telah dibentuk sejak tahun 2011 oleh beberapa orang yang sangat peduli akan produk lokal ini dan telah memiliki website resmi www.topibambu.com , telah banyak berperan mengangkat kembali keberadaan Topi Bambu untuk mampu bersaing dengan produk kerajinan tangan lainnya.

          Komunitas Topi Bambu juga telah berusaha menjembatani antara pengrajin dengan pihak pemerintah agar pengrajin Topi Bambu bahkan masyarakat Tangerang pada umumnya diberi pembekalan berupa pelatihan, serta dana bantuan sebagai modal usaha, juga kemudahan dalam memasarkan produk Topi Bambu, sehingga kerajinan Topi Bambu ini mampu menjadi salah satu sumber penghasilan yang dapat mengangkat kesejahteraan masyarakat Kabupaten Tangerang.