Sep 11, 2014

GELIAT BISNIS KERAJINAN KULIT DI BATANG JAWA TENGAH


          Tak bedanya dengan pusat kerajinan kulit di Cibaduyut – Jawa Barat serta Magetan – Jawa Timur, demikian pula di Desa Masin, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, yang tak mau kalah menjadikan daerah ini sebagai pusat kerajinan kulit di Jawa Tengah.

          Keberadaan para penyamak kulit dan pengrajin kulit di Batang telah ada sejak puluhan tahun silam. Menurut mereka bisnis ini mulai digeluti sejak tahun 1956 oleh hanya tiga orang warga yang ketika itu masih berprofesi sebagai penyamak kulit sapi. Melihat bisnis tersebut semakin berpotensi dan sangat berpeluang setiap tahunnya, kemudian warga yang lain mulai ikut terjun menjadi penyamak kulit sapi di Desa Masin.

Selang beberapa lama, mulailah muncul kreatifitas penduduk lain yang menjadikan kulit sapi sebagai industri kerajinan kulit dan terus berkembang sampai sekarang.

Untuk mendukung peningkatan bisnis penyamak dan pengrajin kulit masyarakat Desa Masin, maka didirikanlah Koperasi Pengrajin Kulit pada tahun 1962.

Tahun 2008 silam Bappeda Kabupaten Batang menggulirkan program pendukung bagi para penyamak dan pengrajin kulit setempat, dengan mendirikan Kluster Kulit (wadah yang menaungi bisnis para penyamak dan pengrajin kulit), serta mengucurkan anggaran tahunan guna melakukan berbagai pembinaan juga pelatihan agar masyarakat pelaku dibisnis ini mampu menghasilkan produk berkualitas, sehingga dapat bersaing baik dipasaran dalam negeri maupun mancanegara.


Perkembangan bisnis menyamak kulit dan kerajinan kulit di Batang pun semakin bertumbuh pesat seiring permintaan pasar. Sampai saat ini para pengrajin tersebut telah mampu meproduksi berbagai jenis kerajinan dalam bentuk sandal, tas, dompet, sabuk (ikat pinggang), jaket, serta berbagai aksesoris. Setiap jenis kerajinan tersebut juga memiliki beragam model yang disesuaikan dengan tren perkembangan pasar.

Pemasaran produk kerajinan kulit dari Kabupaten Batang mampu merambah keberbagai tempat di nusantara, bahkan produk kerajinan kulit mereka juga telah diikutkan pada berbagai pameran dalam negeri.

Rata – rata penghasilan setiap pengrajin kulit di Kabupaten Batang mampu meraih omset minimal Rp.50 juta per bulan.

          Seiring maraknya pertumbuhan pengrajin kulit sebagai bisnis berbasis ekonomi kerakyatan di Batang ini, dan dibarengi permintaan pasar yang terus meningkat, maka untuk mengantisipasi stok ketersediaan bahan baku kulit sapi, para pengrajin kulit di Batang juga mendatangkan langsung kulit sapi dari Jawa Timur dan Timor Timur.

















No comments: