May 17, 2014

CIRI KHAS BATIK YOGYA



          Tahun 1755 berdasarkan Perjajian Giyanti, maka Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua. Pangeran Mangkubumi beserta para pengikut setianya berangkat menuju kerajaan barunnya yaitu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Turut serta bersama rombogan, yaitu para pembatik yang juga mengangkut beberapa jenis kain sebagai motif untuk Batik Yogyakarta kelak.

          Sejak awal berdirinya kerajaan baru tersebut, setiap Sultan yang memerintah juga berhak mengeluarkan berbagai peraturan termasuk mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan batik dan busana kerajaan.

Awalnya Batik Yogya hanya khusus dibuat bagi kalangan dilingkungan keraton saja. Namun seiiring berkembangnya jaman, akhirnya Batik Yogya pun sudah menjadi milik masyarakat umum bagi berbagai budaya, baik di nusantara hingga ke mancanegara.

Ciri khas Batik Yogya dapat dibedakan dari :

1. Jenis pembuatannya yang umumnya dibuat dengan menggunakan tehnik tulis, sehingga hasilnya begitu halus dan harganyapun agak mahal.

2. Warna umum yang digunakan pada Batik Yogyakarta adalah warna putih, warna biru kehitam – hitaman, dan warna coklat soga.

3. Motif dari Batik Yogya umumnya bergambar hewan dan manusia.

4. Setiap motif Batik Yogya mempunyai filosofi yang berbeda dengan batik dari daerah lain.

Beberapa motif Batik Yogya yang kita kenal, diantaranya: motif parang kusumo, motif truntum, motif sido mukti, motif geometri, motif tumbuhan menjalar, motif tumbuhan air, motif bunga, motif parang rusak barong, dan ratusan motif lainnya.

          Pusat kerajinan batik di Yogyakarta sangat mudah kita temui jika berkunjung ke Desa Wukisari di Bantul.

May 15, 2014

CIRI KHAS BATIK ACEH



          Tidak ada data akurat mengenai kapan awalnya batik dikenal oleh masyarakat Aceh. Namun keberadaan Batik Aceh saat ini tidak kalah saing dengan batik produksi dari dearah lain di tanah air, dan pasarannya pun sudah sampai keluar wilayah Aceh.

          Keseriusan Pemerintah Aceh melalui Dewan Kerajinan Nasional juga telah melakukan pelatihan bagi pengrajin batik di Aceh, dengan mendatangkan beberapa pembatik dari Cirebon dan Pekalongan. Bahkan kerap mengikut sertakan produk Batik Aceh disetiap pameran berskala nasional.

Yang paling membedakan Batik Aceh dengan batik daerah lain adalah motifnya yang khas berupa gambaran budaya dan alam di sekitar wilayah Aceh. Namun sesuai dengan Syariat Islam, maka pada motif Batik Aceh ada larangan menggunakan gambar mahluk bernyawa.

Ciri khas Batik Aceh dapat kita lihat dari:

1. Warnanya yang cerah, seperti: kuning, hijau, merah, biru, dan warna cerah lainnya.

2. Motif – moti pada Batik Aceh berupa: Motif Rencong, Motif Tolak Angin, Motif Bungong Jeumpa, Motif   Pintu Aceh, Motif Gayo, yang masing – masing motif tersebut mempunyai makna filosofi tersendiri.

Berbagai jenis produk yang dihasilkan dari Batik Aceh ini, diantaranya: baju, celana, tas, dompet, topi, dan beberapa produk lainnya.

Model celana panjang batik bagi perempuan Aceh diciptakan dengan model ukuran yang longgar, melambangkan kesetaraan derajat yang sama antara pria dan wanita di Aceh.

          Salah satu cara untuk memasyarakatkan Batik Aceh, maka pemerintah Bumi Serambi Mekah ini mewajibkan setiap PNS di Aceh agar menggunakan seragam Batik Aceh dihari tertentu.



May 13, 2014

CIRI KHAS BATIK SASIRANGAN (KAIN ADAT KALIMANTAN SELATAN)





          Konon Batik Sasirangan ini sudah ada sejak abad XII jaman Kerajaan Banjar (Kalimantan Selatan) yang dipimpin oleh Putri Junjung Buih.

          Awalnya Kain Batik Sasirangan khusus digunakan sebagai syarat untuk proses pengobatan bagi orang sakit dengan istilah kain untuk “Batatamba”. Namun seiring perkembangan jaman dan tingkat kebutuhan, maka Kain Sasirangan ini digunakan bagi kaum pria Suku Banjar sebagai penutup kepala yang disebut dengan “Laung”, dan untuk ikat pinggang. Serta kaum wanita Suku Banjar menggunakan Kain Sasirangan ini sebagai penutup tubuh yang disebut “Kemben”, juga dijadikan selendang dan hanya bisa dipakai untuk upacara adat saja.

Sasirangan barasal dari kata menyirang yang artinya menjelujur, karena pembuatannya dilakukan dengan cara dijelujur dengan diikat menggunakan tali rafia setelah itu dicelup.

Saat ini Batik Sasirangan sudah menjadi tren mode yang dipakai dalam bebabagai suasana, baik yang sifatnya formal (seperti batik kerja bagi PNS) maupun dipakai saat santai setiap hari dalam bentuk baju (pria, wanita, dan anak – anak). Ada pula dibuat dalam bentuk jas, selendang, dan sebagainya, karena Batik Sasirangan lebih mengarah pada fashion yang sudah memiliki berbagai motif mengikuti perkembangan jaman.

Beberpa motif yang dikenal pada Batik Sasirangan, diantaranya: Motif Sarigading, Motif Degradasi, Motif Gigi Haruan, Motif Kambang Sakaki, Motif Kulat Karikit, Motif Kangkung Kaumbakan, Motif Ombak Sinampur Karang, Motif Bayam Raja, Motif Hiris Pundak, Motif Kambang Kacang, Motif Hiris Gagatas, Motif Daun Jaruju, Motif Tampuk Manggins, Motif Bintang, Motif Ular Lidi, Motif Ramak Sahang, Motif Galombang, Motif Daun Katu, Motif Mayang Maurai, Motif Naga Balimbur, Motif Banawati, Motif Dara Manginang, Motif Turun Dayang, dan Motif Abstrak.

Mulanya bahan dasar warna yang dipakai untuk pembuatan Batik Sasirangan berasal dari alam berupa flora yang tumbuh disekitar wilayah Kalimantan Selatan, diantaranya: daun, kulit pohon, biji – bijian, buah, serta umbi – umbian.

Warna yang umumnya digunakan pada Batik Sasirangan, berupa: merah, hijau, kuning, coklat, ungu, dan hitam.

          Untuk merubah warna – warna tersebut agar kelihatan gelap atau pun cerah, juga tidak mudah luntur, maka digunakan bahan – bahan berupa: jeruk nipis, kapur, tawas, cuka, garam, jintan, lada, pala, dan rempah – rempah lainnya.











May 10, 2014

CIRI KHAS BATIK PAPUA



          Pada tahun 1985 UNDP (United Nations Development Program) memberi bantuan kepada pemerintah Indonesia guna pemberdayaan kebudayaan Indonesia Bagian Timur. Pemerintah kita pun menyambut baik bantuan atas program tersebut, sehingga diutuslah pembatik dari Yogyakarta untuk langsung melatih masyarakat Papua saat itu.

          Bahan utama yang digunakan sebagai kain untuk pembuatan Batik Papua adalah dari kain katun dan sutera. Tehnik pembuatan Batik Papua terdiri dari batik cap yang umumnya dikerjakan oleh kaum wanita di Papua, dan pembuatan batik cap dikerjakan oleh para pria Papua. Saat ini pembuatan Batik Papua sudah banyak juga yang menggunakan tehnik printing.

Awalnya perwarnaan Batik Papua hanya menggunakan bahan dari alam seperti buah pinang, namun saat ini sudah banyak pengrajin Batik Papua menggunakan bahan sintetis sebagai pewarnaannya.

Khusus untuk pembuatan kain pada Batik Papua, saat ini sudah ada yang didatangkan langsung dari Pulau Jawa. Salah satu tujuan untuk mengurangi biaya produksi bagi pembatik Papua.

Baberapa ciri khas dari Batik Papua dapat dilihat pada:

1. Warna yang digunakan umumnya terang, menyolok, dan cerah, seperti: warna merah, hijau, kuning, dan biru.

2. Motif dan corak Bati Papua kebanyakan diambil dari patung – patung khas Papua, artefak dan fosil yang terdapat di Papua (unsur arkeologi), gambar – gambar yang terdapat pada gua – gua di Papua, alat musik Tifa, gambar cicak, kadal, dan buaya, serta berbagai hal yang berhubungan dengan alam dan budaya Papua.

Beberapa contoh dari motif Batik Papua, antara lain: Motif Burung Cendrawasih, Motif Patung Asmat, Motif Kamoro, Motif Sentani, Motif Rumah Honai, Motif Prada (motif bergaris – garis emas),

          Jika tertarik ingin menambah koleksi batik anda, nah...., silahkan mampir ke sentra Batik Papua sebagai pusat koleksi dari berbagai jenis motif Batik Papua yang terdapat di Jayapura – Ibu Kota Papua Barat.



May 8, 2014

CIRI KHAS BATIK JEPARA



          Batik Jepara disebut juga Batik Kartini, karena motifnya disesuaikan dengan motif yang diciptkan oleh R.A. Kartini dan motif tersebut tetap dipertahankan sampai saat ini.

          Konon R.A. Kartini pernah mengirim batik ciptaanya tersebut kepada para sahabatnya di Belanda, sehingga diakui bahwa R.A. Kartini-lah yang awalnya memperkenalkan Batik ke negeri Belanda.

Beberapa motif Batik Kartini dapat dikenali, diantaranya: Motif Srikaton, Motif Srigunung, Motif Parang Gandosuli, Motif Bunga Kantil.

Umumnya Batik Jepara model Batik Kartini ini dipakai oleh kaum bangsawan.

Adapun motif lainnya dari Batik Jepara ini diambil dari berbagai ukiran Jepara, seperti: Motif Parang Poro, Motif Lung – Lungan, Motif Kembang Setaman, Motif Elung Bimo Kurdo, dan Motif Sido Arum.

Untuk warna khas yang dipakai pada Batik Jepara ini, adalah: gajah coklat, ulir hijau, lung hitam, dan beberapa jenis warna lainnya.

          Menurut informasi yang beredar mengatakan bahwa pengrajin batik di Jepara sudah tidak ada lagi ditemui saat ini, sehingga Batik Jepara yang selama ini beredar di wilayah Jepara, pembuatannya dikerjakan oleh para pengrajin batik dari Pekalongan.